Mengapa IjabSAH?


Izinkan saya untuk membahas tentang alasan di tulisnya buku ija(b)sah ini.

1. Meminimalisisr fenomena pemuda/I yang phobia untuk merencanakan pernikahan.

Banyak diantara generasi muda kita yang hilang arah dalam melakukan persiapan pernikahan.


karena membahas mengenai pernikahan ini bukan tentang kemapanan, tapi tentang kemantapan.


banyak yang punya harta, tapi tidak berani melamar juga


memang banyak faktor yang melatar belakanginya. tapi kalau ini terus berlanjut, akan semakin banyak pengikisan nilai/norma yang akan terjadi. ngeriiii


sehingga buku ini memaparkan secara lembut tentang persiapan kemantapan tersebut dalam 3 hal.


qolbu, akal, dan fisik.


Atau iman, ilmu dan amal.


2. Memberikan gambaran proses pernikahan yang berfokus ke inti, bukan ke bungkus/kemasan.


berapa banyak anak muda kita yang terjebak dengan proses pernikahan mewah. tapi akhirnya terjebak nominal hutang yang wahhh?


cara berpikir yang baik akan melahirkan amal yang baik.


berapa banyak yang sudah membuat kartu undangan begitu wah... tapi akhirnya berakhir di tong sampah.


atau bahkan berapa banyak anak muda kita yang begitu getol meriah panggung dan gedung yang megahhh... tapi akhirnya tak berbuah apa-apa.

Apakah yang serbah mewah itu salah?


enggak salah, bila hal itu tidak menyebabkan kerusakan apapun dalam kehidupan anak muda kita kelak.


hutang yang menumpuk, makanan yang membusuk, hidup yang makin terpuruk.


maka mengatur prioritas "pas pernikahan" sama pentingnya dengan mengatur prioritas "pasca pernikahan"


ubah mindset anda tentang kartu undangan wah... jadikan sebagai alat untuk mengundang, tapi bisa di fungsikan selain kartu undangan yang berakhir di tong sampah.


kartu undangan bentuk gelas, bentuk kipas, dan bentuk lainnya yang lebih bermanfaat. kannnn lebih nikmaattt, penerima nya juga mendapatkan banyak manfaat.


btw, dalam buku ini, diatur prioritas tersebut.


3. menyampaikan fakta, “siapa bilang nikah itu enak?”


Lebih tepatnya enak banget, hehe


Hanya saja, kalau terlalu larut, akan ada seuatu yang berlebih.


Ini bisa menjadi penyebab ke-kakuan-an dalam membahas hal yang lebih sensitif seperti keuangan, masa depan, punya anak. Dan lainnya.


4. Saya ingin meninggalkan jejak manfaat.


Begitu banyak nikmat sudah Allah berikan, dan saya ingin membagikan kebahagiaan itu kepada lebih banyak orang


membagikan karunia dari-Nya yang tak akan terhitung oleh angka, serta ternalar oleh logika.



Comments